Dwi Pristiawati
Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
@owipr

Kali ini aku mau cerita pengalaman mengajar di Singanakhon Wittayanusorn School (SWIT School), Singanakhon, Thailand Selatan.

Kesempatan jadi guru bahasa Inggris di Thailand ini alhamdulillah gratis, mulai dari tiket pesawat, tempat tinggal, makan sampai kaos dan lain-lainnya. Gimana cara dapetinnya? Tunggu di part berikutnya ya! Okey?

Di Thailand Selatan intinya ngga Cuma ngajar aja tapi juga bertukar budaya sama guru-guru dan masyarakat sekitar, mengunjungi beberapa tempat wisata dan mencoba kuliner khas Thailand Selatan yang berbeda sama Bangkok.

Singanakhon Wittayanusorn School.

 

Sebulan sebelum mengajar aku dan teman-teman sudah harus punya konsep matang terkait materi, media dan metode pengajaran disana karena siswa-siswa di SWIT adalah siswa-siswa bilingual yang belajar tiga bahasa; Thailand, Arab dan Inggris. Karena yang diajar adalah siswa SD maka aku dan teman-teman menggunakan media flashcard, lembar permainan, metode tanya jawab, diskusi perkelompok dan materinya adalah abjad, hewan dan benda-benda dalam kelas. Oh iya aku lupa, sekolah ini adalah sekolah Islam jadi semua siswa dan gurunya memakai jilbab menutup dada dan mereka semua sangat sopan dan ramah terhadap orang lain. 

Samila Beach

Diluar waktu mengajar, aku dan teman-teman diajak ke Samila Beach, pantainya dekat dari sekolah karena Cuma memakan waktu perjalanan sekitar 45 menit itu berarti Thailand Selatan dekat sama laut. Di Samila Beach, kita belajar bahasa Thailand dulu, dasar sih tapi bermanfaat banget untuk tawar menawar dipasar. Setelah belajar, kita diminta untuk praktek dengan masyarakat sekitar. Hasilnya? Ngga ada masyarakat yang ngerti dong karena berbeda nada berbeda arti. 

Sleeping Buddha

Sleeping Buddha ternyata ngga Cuma ada di Bangkok, di Singanakhon juga ada dan ukurannya mungkin sama besarnya. Di Sleeping Buddha Cuma jalan-jalan sambil foto-foto kadang jajan-jajan terus bagi-bagi deh. Hehe

Chinatown

Chinatown disini kurang lebih sama kota lama di Semarang dan kota tua di Jakarta ya bedanya cuma bentuk bangunan, tulisan dan makanan yang dijual tapi disini ada masjidnya juga. Oh iya, susah menemukan makanan halal di Chinatown, tapi kalau udah disekitaran masjid gampang kok. 

ASEAN Night Market

Untuk yang suka shopping dengan harga murah, disini surganya Singanakhon. Selain menjual makanan khas Thailand Selatan, disini juga jual kain, baju, souvenir, macem-macem deh. Oh iya, ada pasar apung juga.

Food Exchange

Kalau dibilang food exchange sebenernya engga juga sih karena kita ngga masak masakan Indonesia tapi kita belajar masak masakan Thailand “Tom Yum Gung” nggatau deh tulisannya benar atau engga nih hehe, bahan intinya sih Udang dan Ikan yang dikasih kuah. Menurutku, Thailand punya sayur lokal yang ngga mudah dijumpai di negara manapun, tapi sayangnya aku ngga cocok sama sayurnya karena baunya menyengat dan sayur ini sebagai campuran dibeberapa makanan Thailand. 

Thailand Selatan itu jauh dari Bangkok dan ada beberapa perbedaan budaya yang terlihat signifikan banget mulai dari kepercayaan, makanan, gaya berbicara dan lain-lain. Thailand Selatan khususnya Singanakhon rata-rata ngerti bahasa melayu bahkan Indonesia karena mereka tinggal di perbatasan Malaysia. 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×

Hello!

If you have question, you can ask here :)

× How can I help you?